Categories
kartu kredit

Kartu Kredit dan E-Money Menyebabkan Tagihan Membengkak

Kartu kredit dan e-money telah menyebabkan kepopuleran uang tunai semakin meredup dan bertambah banyak pula masyarakat berpaling darinya. Seiring meningkatnya populasi pengguna uang elektronik, maka muncul pula anggapan bahwasanya kita akan menjadi tambah boros daripada sebelumnya.

Ketika masih kecil dahulu, kita seringkali menyimpang uang jajan dari orangtua pada tempat random seperti misalnya laci kecil. Kemudian koin tersebut akan ditumpuk serapi mungkin sembari menantikan tumpukan itu menjulang tinggi bagaikan gedung pencakar langit pada sebuah kota metropolitan.

Kartu Kredit dan E- Money Menyebabkan Tagihan Membengkak

Salah seorang teman saya bercerita akan pengalamannya mengenai pengelolaan uang hingga berkembang menjadi seperti sekarang ini. Sebut saja namanya Alex, besar di Sussex Timur, Inggris, di mana kota tersebut dulunya pernah jadi saksi sejarah terjadinya perang besar pada tepi laut.

Alex menerima kartu debit pertama kali sebagai hadiah ulang tahunnya ke usia 14, lalu mulai melatih dirinya untuk menabung sejumlah uang. Niatnya cukup jelas, yaitu suatu hari nanti ia ingin mempelajari bagaimana cara main balak online melalui agen judi balakplay uang asli terpercaya 2020 sekarang ini. Alex yang semakin tumbuh besar kini telah mendapat pekerjaan barunya sebagai waiter di lokalisasi perjudian bingo yang cukup banyak penggemarnya di kota tersebut.

Alex tidak menghamburkan gajinya, melainkan justru sesegera mungkin langsung membawanya ke bank terdekat untuk ditabung sebisa mungkin. Ia juga menolak untuk berkenalan dengan kartu kredit karena merasa belum menemukan keuntungan daripada pemakaian kartu kredit terhadap hidupnya.

Kartu Kredit dan E-Money Menggeser Popularitas Uang Tunai

Kartu Kredit dan E-Money masih menjadi hal asing bagi Alex pada saat itu, tepatnya tahun 2007, lagipula bunga tabungan bank cukup tinggi. Angkanya menyentuh lima persen, yang mana pada saat itu membuat Alex melonjak kegirangan karena menerima imbalan atas kedisiplinannya menabung.

Menjelang tahun 2018, Alex yang telah dewasa kemudian memutuskan untuk pindah ke Beijing, China, untuk mengadu nasib. Di sana, ia bekerja sebagai jurnalis paruh waktu, sehingga penghasilannya belum stabil seperti karyawan tetap pada umumnya di kantor – kantor besar pada pusat kota metropolitan.

Kartu Kredit dan E-Money Menggeser Popularitas Uang Tunai

Ketika itu, Alex mulai menyadari sebuah keanehan yang semakin lama makin nyata terlihat dan begitu sering terjadi. Berdasarkan pengamatannya, penghuni kota Beijing sebagian besar tidak lagi membawa uang tunai sehingga pemandangan seperti transaksi jual beli di pasar hampir tidak pernah terlihat lagi.

Lantas, bagaimanakah cara orang Beijing memenuhi kebutuhan hidupnya jika ia tidak membelanjakan uang tunai setiap harinya? Ternyata, masyarakat di ibukota China tersebut sama sekali tidak meninggalkan kebiasaannya berbelanja seperti yang terlihat oleh pandangan sekilas dari Alex.

Justru sebaliknya, warga China sebenarnya menjadi jauh lebih konsumtif daripada sebelum mereka berbelanja menggunakan metode tradisional. Hanya saja, konsumen akan mengeluarkan smartphone dari sakunya alih – alih uang kertas, kemudian melakukan scanning barcode QR sehingga nominal tabungannya berpindah ke pedagang.

Memahami Tujuan Penciptaan Uang dan Perannya Terhadap Manusia

Sejarah kartu kredit telah melalui serangkaian proses yang panjang dan rumit sebelum ia sampai ke negara kita tercinta yaitu Republik Indonesia tercinta. Namun sebelum kita pusing memikirkan jenis transaksi seperti kartu kredit dan e-money, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu konsep penciptaan uang tunai.

Mengikuti konsep dasarnya, uang adalah sebuah jelmaan dari kata abstrak, sebagian besar dari umat manusia yang masih hidup di bumi tidak peduli sejarahnya. Kita hanya menerima mentah – mentah ajaran dari orang dewasa yang berkata bahwa uang sangat penting untuk kehidupan umat manusia di bumi.

Memahami Tujuan Penciptaan Uang Serta Peran Kartu Kredit dan E-Money

Kita juga tidak mengerti bagaimana selembar kertas dapat memiliki nilai berbeda hanya dari pembagian jenis menurut warna saja seperti merah atau biru. Pada awal mula terciptanya uang, ia dianggap sebagai penemuan revolusioner karena tidak perlu kesusahan mencari orang lain untuk membarterkan kebutuhan masing – masing.

Secara ilmu teknikal, uang adalah alat yang berfungsi sebagai penyimpan sebuah nilai, sehingga sudah menjadi sebuah kewajaran bila ia punya standar tertentu. Peradaban Babel adalah pertama kalinya manusia menggunakan mata uang, yaitu sekitar 3 ribu tahun sebelum masehi mengandalkan media perak.

Pada zaman tersebut, penghuni Babel telah mengenal istilah pembukuan seperti buku besar, jurnal transaksi, bahkan catatan hutang. Perak tidak berdiri sendiri, melainkan ia perlu dukungan pemerintah sebagai penjamin sekaligus untuk membuat nilainya menjadi stabil agar menjadi alat transaksi terpercaya.