Categories
kartu kredit

Keringanan Bayar Kartu Kredit Menjadi Pertimbangan Bank Indonesia

Keringanan bayar kartu kredit saat ini sedang menjadi bahan pertimbangan Bank Indonesia mengingat pandemi Covid semakin parah setiap harinya. Asosiasi Kartu Kredit Indonesia mengajukan usul untuk menunda tagihan yang bertujuan untuk meringankan beban nasabah akibat sulitnya mencari pekerjaan dalam situasi seperti ini.

Perkumpulan tersebut peduli dengan konsumen dan meminta untuk menunda penagihan secara signifikan hingga satu tahun tambahan. Direktur AKKI yaitu bapak Steve Marta memiliki sudut pandang bahwa jika tagihan tetap dipaksakan selesai di Desember 2020, dapat dipastikan akan terjadi kegagalan bayar secara massal daripada nasabah tertagih.

Keringanan Bayar Kartu Kredit Menjadi Pertimbangan Bank Indonesia

Ia berharap supaya Bank Indonesia menaruh perhatian khusus terhadap kasus pelik ini, karena bencana seperti pandemi adalah di luar prediksi bersama. Ia pun tidak hanya sekedar meminta pertolongan BI, melainkan juga mengajukan syarat minimum bayar dari 10 persen menjadi turun separuhnya yaitu 5 persen.

Steve Marta juga memiliki harapan bahwa BI tidak menaikkan suku bunga kartu kredit agar tetap pada porsinya saat ini. Dalam bulan berjalan, BI mengenakan bunga sekitaran 2 persen per bulannya, yang berarti pada hitungan annual menjadi 24 persen dalam satu tahun belakangan ini.

Bank swasta seringkali mengantisipasi skenario gagal bayar dengan menolak pengajuan kartu kredit akibat dari ketatnya penilaian mereka. Namun, oknum staff juga gelap mata dan menawarkan pintu belakang kepada calon nasabah sehingga menjadi bom waktu seperti sekarang ini.

Keringanan Bayar Kartu Kredit Oleh BI Akankah Dikabulkan?

Para penghutang memohon kebijakan BI karena tidak kuat menahan kerugian yang terjadi karena tergerus oleh situasi pandemi virus corona setahun terakhir. Mereka harus memenuhi kebutuhan hidupnya sehari – hari serta tagihan lainnya seperti air, listrik, biaya sekolah, dan masih banyak lagi tanggungan tak terbayar.

Dengan meringankan tagihan, masyarakat jadi memiliki peluang untuk membayarkan hutangnya sebab menjadi lebih ringan. Angka 10 persen dirasa masih terlalu membebani, mengingat gaji karyawan perusahaan secara keseluruhan terpangkas hingga 50 persen, besar pasak daripada tiang.

Keringanan Bayar Kartu Kredit Oleh BI Akan Dikabulkan

Steve Marta cukup kewalahan ketika menghadapi sejumlah pertanyaan daripada awak media terkait keringanan bayar kartu kredit. Ia hanya dapat berkomentar, bahwasanya laba perusahaan yang terdaftar dalam AKKI hancur lebur omsetnya, mayoritas turun mencapai setengah dari pendapatan normal bulanan.

Ia menolak untuk menjelaskan secara terperinci mengenai nominal kerugian perusahaan yang tergabung di bawah naungan AKKI. Namun, ia memberikan sedikit bocoran terkait perubahan perilaku konsumen dalam bertransaksi selama tahun 2020 saat pandemi mulai merebak hingga meledak seperti akhir tahun ini.

Secara normal, transaksi yang memanfaatkan jasa kartu kredit bisa menyentuh Rp20 triliun sehingga dapat terbilang sangat sehat dan kuat. Semenjak corona menyerang, grafik menunjukkan bahwa transaksi tersebut kini jatuh hingga hanya sekitaran Rp10 triliun saja, menandakan betapa parahnya dampak bencana kali ini terhadap roda perekonomian bangsa Indonesia dan rakyatnya.

Dilema Antara Kredit Macet dan Nasabah Baru Kartu Kredit

Pemerintah mengakui bahwa mereka masih berusaha untuk menghalau efek samping negatif dari Pembatasan Sosial Berskala Besar. Keringanan bayar kartu kredit bukanlah menjadi wewenang pejabat pemerintahan karena kekuasaan mutlak berada di tangan Bank Indonesia yang berkuasa mengeluarkan kebijakan tersebut.

Kembali kepada Steve Marta, ia berujar bahwasanya tidak akan menampik fakta mengenai kenaikan angka pada grafik kredit macet. Tapi kita tidak boleh terburu – buru mengambil kesimpulan karena itu juga bisa banyak penyebabnya, sehingga perlu kita adakan penyelidikan terlebih dahulu untuk tahu alasan sesungguhnya.

Dilema Antara Keringanan Bayar Kartu Kredit

Menurut Steve, ada dua hal besar terkait peningkatan angka pada bagan yang menunjukkan mengenai kredit macet oleh nasabah. Pertama, sudah pasti karena turunnya pendapatan konsumen yang menyebabkan kemampuan daya beli mereka pun anjlok bahkan untuk sekedar membayar tagihan yang telah mandek dari beberapa bulan terakhir.

Faktor kedua, yaitu kemungkinan besar adanya penurunan jumlah calon nasabah yang mendaftarkan dirinya sebagai pengguna kartu kredit. Ketika kelompok pelanggan baru ini menurun, maka otomatis akan mempengaruhi penilaian terhadap angka kartu kredit yang macet pembayarannya.

Steve mengingatkan para pengusaha alias pelaku bisnis supaya mengencangkan tali ikat pinggangnya atau berarti penghematan total pada sektor bisnis apapun. Badai covid sama sekali belum reda, bahkan ada pertanda akan semakin mengamuk karena infonya masih simpang siur, sehingga lebih baik sedia payung sebelum hujan daripada menyesal di kemudian hari.